Menu

Minggu, 30 Desember 2012

Galeri Dan Distro Silok Salurkan Kreativitas Pemuda



Pontianak (ANTARA Kalbar) - Galeri dan Distro 'Silok' mencoba memberikan kesempatan kepada pemuda Kalimantan Barat menyalurkan kreativitasnya dalam bidang desain grafis yang diaplikasikan dalam bentuk kaos.

"Kita mencoba memberikan kesempatan kepada masyarakat, khususnya pemuda yang ada di Kalimantan Barat untuk berkreasi dan menampilkan hasil karyanya pada bidang kaos oblong," kata pemilik Galeri dan Distro 'Silok', Rendra di Pontianak, Kamis.

Ia mengatakan, jika selama ini banyak pemuda yang memiliki bakat menggambar dan hanya menuangkan karyanya di atas kertas, maka sekarang mereka bisa memamerkan karyanya pada bidang kaos dan tentu menjadi media pengenalan yang efektif, karena bisa dipakai dan dibawa kemana saja.

Dia menyatakan, ide membuka Galeri dan Distro 'Silok' tersebut terbesit dari pengalaman pribadinya ketika memasuki toko pakaian, dimana setelah sekian lama memilih, namun tidak ada model dan gambar baju yang menarik hatinya, sehingga dia urung untuk membeli.

"Kita menawarkan konsep distro berbeda pada Galeri dan Distro `Silok`, bahkan kami berani mengklaim, konsep yang kami tawarkan ini pertama kalinya di Kalimantan Barat," kata dia lagi.

Apalagi di tempatnya itu pembeli bisa mencetak sendiri gambar favorit mereka atau wajah mereka di atas permukaan kaos. Selain itu, pembeli tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk mencetak gambar mereka di kaos dengan standar distro, karena harga yang kita tawarkan sangat terjangkau.

Terlebih, dengan adanya jasa desain grafis, pembeli bisa memesan sendiri model gambar pada kaosnya.

"Jadi, jika ada pembeli yang ingin minta didesainkan, maka kita akan memberikan jasa desain kepada pembeli, tentu dengan harga yang terjangkau," katanya.

Dia menambahkan, pada tanggal 12 Desember 2012, tepatnya pukul 12.00 siang, Galeri dan Distro `Silok` yang beralamat di Jalan Parit Pangeran, resmi dibuka bersamaan dengan pembukaan Outlet Silok yang berada di Jalan Parit Haji Husein Pontianak, Rumah Konveksi dan Sablon di Jalan Gusti Situt Mahmud, Gang Maluku, dan Silok Musik Studio di jalan Parit Pangeran, Pontianak.

Sementara itu, Muhammad Wahyu selaku pengelola Galeri dan Distro `Silok` mengatakan selain membuka layanan secara langsung, pihaknya juga menerima pesanan via Online dengan memanfaatkan media Facebook, Twitter, BBM dan Blogger.

"Selain menjual produk-produk distro ternama, mulai dari kaos, kemeja, sandal, sepatu dan aksesoris lainnya, kita juga menyediakan jasa pembuatan berbagai jenis pakaian termasuk jasa sablon, baik manual, digital maupun DTG. Melalui jasa sablon ini lah, kita memberikan peluang kepada pemuda untuk mengekspresikan kreasinya dalam media kaos," tuturnya.

Muhammad Wahyu menambahkan, di Galeri dan Distro `Silok` juga menyediakan jasa digital printing untuk pembuatan Baliho, Spanduk, X Banners, Pin, stiker dan sebagainya.

"Kita juga menyediakan jasa rental musik, desain grafis pembuatan rumah maupun renovasi rumah dan jasa foto seremoni, tentunya dengan harga yang sangat terjangkau," katanya.(http://www.antarakalbar.com/berita/308759/galeri-dan-distro-silok-salurkan-kreativitas-pemuda)
Usaha distro sampai saat ini masih sangat menjanjikan. Bahkan bisa dikatakan usaha di bidang ini, khususnya di Kota Pontianak, masih memiliki peluang besar untuk digarap.

Terlebih usaha di bidang ini masih digandrungi anak muda yang pada dasarnya sifat anak muda suka hal yang unik dan tampil beda. Dan ini menjadikan usaha distro masih bisa tetap eksis hingga sekarang.

Inilah salah satu faktor mengapa distro memiliki prospek yang sangat bagus. Silok Distro adalah salah satu usaha distro lokal Pontianak yang tengah berkembang. Di tangan Rendra, brand Silok Distro kini memiliki tempat di hati kawula muda di Pontianak.

“Saya memilih distro ini sebagai salah satu pilihan usaha yang saya geluti. Hal ini terbukti, karena meski belum empat bulan saya berkecimpung di bisnis ini, namun omzet yang didapat sangat menggiurkan,” kata Rendra.

Dalam menjalankan usahanya, Rendra memiliki tiga konsep usaha. Pertama kaus distro, kedua kaus motivasi, ketiga kaus budaya dan pariwisata, dan keempat pemenuhan pesanan pelanggan untuk berbagai kebutuhan.

“Alhamdulillah, dalam tiga bulan ini, untuk konsep distro dan motivasi serta pemenuhan pesanan pelanggan sudah bisa berjalan dengan baik. Tinggal melakukan pembenahan pada beberapa bagian dan memantapkan konsep budaya/pariwisata, maka ke depan usaha ini mudah-mudahan bisa berjalan semakin baik,” ujarnya.

Untuk melihat beberapa hasil dari sablonan silok distro, silakan kunjungi Facebook di rendraarea atau blog.(http://www.equator-news.com/kom-bisnis/20120902/melirik-usaha-clothing)

Silok Distro, Bisnis Tanpa Modal Berbasis Amal

Sebelumnya Rendra sama sekali tidak kepikiran untuk memulai usaha clothing ini. Walaupun sejak kuliah ia sudah sering membuat beberapa desain pakaian untuk kegiatan mahasiswa dan banyak yang suka, namun setelah lulus kuliah, Rendra tidak melanjutkan usaha di bidang clothing ini.

Namun saat memiliki modal usaha yang cukup, ayah satu anak ini pun kepikiran untuk kembali mendalami usaha clothing tersebut dengan membuat label Silok.

Kata Rendra, dalam memulai usaha ini, ia sama sekali tidak mengeluarkan modal sedikit pun, karena modal usaha ini didapatkan dari hasil tabungan menggeluti usaha penjualan susu kedelai.

Ceritanya, pada tahun 2008 lalu ia ditawarkan untuk mengembangkan usaha susu kedelai di Kalimantan Barat oleh temannya. Sistem penjualannya, produk dikirim dari Bandung dan dijual di Pontianak dengan dititipkan di apotek. Begitu barang laku, baru disetorkan pendapatannya.

“Pada bulan pertama, penghasilan yang saya dapat nol rupiah, hingga bulan keempat dengan pendapatan pertama Rp 145 ribu,” katanya.

Mungkin bagi sebagian orang, dengan penghasilan sedikit tersebut langsung menyerah dan berhenti di tengah jalan. Namun tidak bagi Rendra. Penghasilan minim justru membuatnya semakin termotivasi meningkatkan penjualan.

Alhasil, dengan strategi pemasaran yang terarah, pada bulan kelima, penghasilan dari jualan susu kedelai tersebut bisa mencapai Rp 750 ribu dan terus meningkat hingga sekarang dengan pendapatan bersih Rp 3 hingga 4 juta per bulan.

“Sekali lagi saya tekankan, dalam menjalankan usaha tersebut saya sama sekali tidak mengeluarkan modal sepeser pun, melainkan hanya bermodalkan kemauan dan kerja keras,” jelasnya.

Dengan menyisihkan sebagian keuntungan jualan susu kedelai tersebut selama satu tahun, akhirnya tabungannya terus bertambah dan kembali ia putar untuk modal usaha lainnya.

Tahun 2009, dengan modal Rp 20 juta, Rendra memutuskan untuk merintis usaha kafe internet dengan seorang teman. Namun tidak bertahan lama, karena selang berjalan empat bulan, ia merugi dan memutuskan untuk menutup usaha tersebut.

“Dari usaha kafe tersebut, saya jelas merugi, karena modal belum kembali, namun usaha kafe sudah harus ditutup,” kenangnya

Mengalami kerugian usaha yang cukup besar, Rendra tidak menyurutkan niat untuk kembali menggeluti dunia wirausaha. Karena setelah kembali mengumpulkan uang dari hasil menjual susu kedelai selama dua tahun, akhirnya pada awal tahun 2012 ini ia memutuskan untuk kembali menggeluti dunia clothing.

“Awalnya saya hanya iseng-iseng membuat beberapa sampel desain pakaian distro dan saya upload di Facebook. Alhasil, dari beberapa desain yang saya buat, banyak dipesan oleh teman,” terangnya

Meski bisa mendesain pakaian, namun harus Rendra akui tidak bisa menyablon. Ia berusaha untuk belajar menyablon melalui internet. Dan saat ini ia sudah bisa menyablon sendiri pakaian dan menjualnya kepada konsumen.

“Mulai dari itu, saya semakin menguatkan tekad untuk menjalankan usaha itu. Pada awal Maret lalu saya mulai mengumpulkan beberapa desain pakaian dan membeli alat sablon DTG dan manual kemudian mencetaknya,” tuturnya.

Alhamdulillah, beberapa hasil pakaian yang dicetak laku terjual, bahkan cukup banyak teman yang memesan pakaian baik skala besar maupun kecil.

Namun, yang namanya wirausaha, pasti ada risiko yang harus dihadapi. Buktinya belum memulai usaha, saat memesan mesin rotary sablon yang dibeli dari salah satu situs penjual mesin tersebut, dia justru menjadi korban penipuan. Karena 50 persen uang pesanan yang dikirimkan via rekening bank lenyap begitu saja dan sampai saat ini mesin pesanannya tersebut tidak jelas ke mana rimbanya.

“Kecewa jelas ada, namun rasa putus asa saya buang jauh-jauh dari pikiran. Dari kejadian tersebut justru membuat saya semakin termotivasi untuk terus menggeluti usaha ini,” ucapnya.

Alhasil, pada bulan pertama menggeluti usaha ini, ia sudah bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 5 juta. Namun sesuai dengan niatnya, 10 persen dari total pendapatan per bulan akan disumbangkan kepada masyarakat yang berhak menerimanya.

“Karena saya menginginkan setiap rupiah yang saya dapat dari usaha ini harus bermanfaat bagi orang lain. Dan ke depan, dengan semakin meningkatnya omzet usaha, saya akan berusaha untuk meningkatkan jumlah dana yang akan disumbangkan,” janjinya.

Sampai bulan keempat ini, berkat usaha berbasis amal tersebut, omzet distronya terus bertambah secara bertahap. Dan ia yakin, ke depan omzetnya akan terus dan terus bertambah.

Sampai saat ini ada sekitar 91 desain pakaian yang sudah dibuat dan siap untuk dipasarkan. Namun karena masih belum memiliki modal cukup untuk menyewa kios, saat ini sistem penjualan dilakukan dengan memanfaatkan media Facebook, blog, dan via BBM.

Meski demikian, pesanan terus saja berdatangan dan itu yang membuatnya semakin yakin usaha ini memang sangat menjanjikan untuk diseriusi.

Rencananya bulan Oktober nanti ia akan membuka tiga outlet penjualan, di mana dari tiga outlet tersebut dua sudah dipastikan positif. Outlet pertama nantinya akan berlokasi di Siantan dan outlet kedua di Jalan Parit Haji Husein Pontianak. Sedangkan outlet ketiga saat ini masih dalam pencarian lokasi yang tepat.

Rendra menargetkan dalam dua tahun ke depan Silok Distro sudah bisa membuka cabang di beberapa kabupaten/kota di Kalbar.(http://www.equator-news.com/kom-bisnis/20120902/silok-distro-bisnis-tanpa-modal-berbasis-amal)

Sabtu, 29 Desember 2012

Manfaatkan Media Sosial


Karena tergolong baru, saat ini konsep penjualan baju yang diterapkan masih lebih banyak melalui media sosial baik melalui internet seperti Facebook, Twitter, blog, maupun BBM. Namun justru melalui media-media tersebut, ia banyak mendapatkan pesanan kaus, baik satuan maupun dalam jumlah besar.

Selain itu, sistem penjualan lainnya yang diterapkan adalah dengan memanfaatkan tenaga lepas. Alhamdulillah, dengan sistem penjualan ini, cukup banyak job yang berdatangan.

Caranya, Rendra mengajak beberapa teman dan kenalan untuk membantu mencari konsumen dengan sistem bagi hasil.

Sesuai dengan tujuan didirikannya distro ini, di mana setiap rupiah yang berasal dari hasil penjualan kaus harus bermanfaat bagi orang banyak, maka tidak ada salahnya jika dari hasil penjualan per buah kaus disisihkan untuk membantu teman. Apalagi teman itu sudah membantu mencarikan pelanggan baru buat kita, hehehe….

Sampai saat ini, sudah ada sekitar 20 tenaga pemasaran lepas yang membantu Rendra. “Dan saya yakin jumlahnya akan terus bertambah, demikian dengan orderan yang akan datang dari tenaga lepas tersebut,” tuturnya.

Rencananya bulan Oktober nanti ia akan membuat sebuah kios distro yang berlokasi di Siantan. Untuk lokasi sudah ada, tinggal melakukan renovasi dan pemenuhan kebutuhan berdagang lainnya. Selain itu, ia juga sudah melakukan kerja sama dengan seorang teman yang memiliki percetakan di Paris I, dan beberapa teman untuk melakukan penjualan pada outlet mereka, sehingga ke depan konsep penjualan akan berkembang kepada distro maupun percetakan lain yang ada di Pontianak.

Bahkan ditargetkan tahun 2014 mendatang, Silok Distro bisa memiliki outlet di kabupaten/kota lainnya di Kalbar. Dan ia yakin itu bisa terwujud, karena sudah memiliki rencana dan konsep yang matang untuk pengembangannya.

Meski demikian, ia juga tahu persis pasti dalam mewujudkan hal tersebut akan ada beberapa halangan. Namun jika sudah yakin, tentu halangan apa pun bisa dilalui. (http://www.equator-news.com/kom-bisnis/20120902/manfaatkan-media-sosial)