Sebelumnya Rendra sama sekali tidak kepikiran untuk memulai usaha clothing ini. Walaupun sejak kuliah ia sudah sering membuat beberapa desain pakaian untuk kegiatan mahasiswa dan banyak yang suka, namun setelah lulus kuliah, Rendra tidak melanjutkan usaha di bidang clothing ini.
Namun saat memiliki modal usaha yang cukup, ayah satu anak ini pun kepikiran untuk kembali mendalami usaha clothing tersebut dengan membuat label Silok.
Kata Rendra, dalam memulai usaha ini, ia sama sekali tidak mengeluarkan modal sedikit pun, karena modal usaha ini didapatkan dari hasil tabungan menggeluti usaha penjualan susu kedelai.
Ceritanya, pada tahun 2008 lalu ia ditawarkan untuk mengembangkan usaha susu kedelai di Kalimantan Barat oleh temannya. Sistem penjualannya, produk dikirim dari Bandung dan dijual di Pontianak dengan dititipkan di apotek. Begitu barang laku, baru disetorkan pendapatannya.
“Pada bulan pertama, penghasilan yang saya dapat nol rupiah, hingga bulan keempat dengan pendapatan pertama Rp 145 ribu,” katanya.
Mungkin bagi sebagian orang, dengan penghasilan sedikit tersebut langsung menyerah dan berhenti di tengah jalan. Namun tidak bagi Rendra. Penghasilan minim justru membuatnya semakin termotivasi meningkatkan penjualan.
Alhasil, dengan strategi pemasaran yang terarah, pada bulan kelima, penghasilan dari jualan susu kedelai tersebut bisa mencapai Rp 750 ribu dan terus meningkat hingga sekarang dengan pendapatan bersih Rp 3 hingga 4 juta per bulan.
“Sekali lagi saya tekankan, dalam menjalankan usaha tersebut saya sama sekali tidak mengeluarkan modal sepeser pun, melainkan hanya bermodalkan kemauan dan kerja keras,” jelasnya.
Dengan menyisihkan sebagian keuntungan jualan susu kedelai tersebut selama satu tahun, akhirnya tabungannya terus bertambah dan kembali ia putar untuk modal usaha lainnya.
Tahun 2009, dengan modal Rp 20 juta, Rendra memutuskan untuk merintis usaha kafe internet dengan seorang teman. Namun tidak bertahan lama, karena selang berjalan empat bulan, ia merugi dan memutuskan untuk menutup usaha tersebut.
“Dari usaha kafe tersebut, saya jelas merugi, karena modal belum kembali, namun usaha kafe sudah harus ditutup,” kenangnya
Mengalami kerugian usaha yang cukup besar, Rendra tidak menyurutkan niat untuk kembali menggeluti dunia wirausaha. Karena setelah kembali mengumpulkan uang dari hasil menjual susu kedelai selama dua tahun, akhirnya pada awal tahun 2012 ini ia memutuskan untuk kembali menggeluti dunia clothing.
“Awalnya saya hanya iseng-iseng membuat beberapa sampel desain pakaian distro dan saya upload di Facebook. Alhasil, dari beberapa desain yang saya buat, banyak dipesan oleh teman,” terangnya
Meski bisa mendesain pakaian, namun harus Rendra akui tidak bisa menyablon. Ia berusaha untuk belajar menyablon melalui internet. Dan saat ini ia sudah bisa menyablon sendiri pakaian dan menjualnya kepada konsumen.
“Mulai dari itu, saya semakin menguatkan tekad untuk menjalankan usaha itu. Pada awal Maret lalu saya mulai mengumpulkan beberapa desain pakaian dan membeli alat sablon DTG dan manual kemudian mencetaknya,” tuturnya.
Alhamdulillah, beberapa hasil pakaian yang dicetak laku terjual, bahkan cukup banyak teman yang memesan pakaian baik skala besar maupun kecil.
Namun, yang namanya wirausaha, pasti ada risiko yang harus dihadapi. Buktinya belum memulai usaha, saat memesan mesin rotary sablon yang dibeli dari salah satu situs penjual mesin tersebut, dia justru menjadi korban penipuan. Karena 50 persen uang pesanan yang dikirimkan via rekening bank lenyap begitu saja dan sampai saat ini mesin pesanannya tersebut tidak jelas ke mana rimbanya.
“Kecewa jelas ada, namun rasa putus asa saya buang jauh-jauh dari pikiran. Dari kejadian tersebut justru membuat saya semakin termotivasi untuk terus menggeluti usaha ini,” ucapnya.
Alhasil, pada bulan pertama menggeluti usaha ini, ia sudah bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 5 juta. Namun sesuai dengan niatnya, 10 persen dari total pendapatan per bulan akan disumbangkan kepada masyarakat yang berhak menerimanya.
“Karena saya menginginkan setiap rupiah yang saya dapat dari usaha ini harus bermanfaat bagi orang lain. Dan ke depan, dengan semakin meningkatnya omzet usaha, saya akan berusaha untuk meningkatkan jumlah dana yang akan disumbangkan,” janjinya.
Sampai bulan keempat ini, berkat usaha berbasis amal tersebut, omzet distronya terus bertambah secara bertahap. Dan ia yakin, ke depan omzetnya akan terus dan terus bertambah.
Sampai saat ini ada sekitar 91 desain pakaian yang sudah dibuat dan siap untuk dipasarkan. Namun karena masih belum memiliki modal cukup untuk menyewa kios, saat ini sistem penjualan dilakukan dengan memanfaatkan media Facebook, blog, dan via BBM.
Meski demikian, pesanan terus saja berdatangan dan itu yang membuatnya semakin yakin usaha ini memang sangat menjanjikan untuk diseriusi.
Rencananya bulan Oktober nanti ia akan membuka tiga outlet penjualan, di mana dari tiga outlet tersebut dua sudah dipastikan positif. Outlet pertama nantinya akan berlokasi di Siantan dan outlet kedua di Jalan Parit Haji Husein Pontianak. Sedangkan outlet ketiga saat ini masih dalam pencarian lokasi yang tepat.
Rendra menargetkan dalam dua tahun ke depan Silok Distro sudah bisa membuka cabang di beberapa kabupaten/kota di Kalbar.(http://www.equator-news.com/kom-bisnis/20120902/silok-distro-bisnis-tanpa-modal-berbasis-amal)
Namun saat memiliki modal usaha yang cukup, ayah satu anak ini pun kepikiran untuk kembali mendalami usaha clothing tersebut dengan membuat label Silok.
Kata Rendra, dalam memulai usaha ini, ia sama sekali tidak mengeluarkan modal sedikit pun, karena modal usaha ini didapatkan dari hasil tabungan menggeluti usaha penjualan susu kedelai.
Ceritanya, pada tahun 2008 lalu ia ditawarkan untuk mengembangkan usaha susu kedelai di Kalimantan Barat oleh temannya. Sistem penjualannya, produk dikirim dari Bandung dan dijual di Pontianak dengan dititipkan di apotek. Begitu barang laku, baru disetorkan pendapatannya.
“Pada bulan pertama, penghasilan yang saya dapat nol rupiah, hingga bulan keempat dengan pendapatan pertama Rp 145 ribu,” katanya.
Mungkin bagi sebagian orang, dengan penghasilan sedikit tersebut langsung menyerah dan berhenti di tengah jalan. Namun tidak bagi Rendra. Penghasilan minim justru membuatnya semakin termotivasi meningkatkan penjualan.
Alhasil, dengan strategi pemasaran yang terarah, pada bulan kelima, penghasilan dari jualan susu kedelai tersebut bisa mencapai Rp 750 ribu dan terus meningkat hingga sekarang dengan pendapatan bersih Rp 3 hingga 4 juta per bulan.
“Sekali lagi saya tekankan, dalam menjalankan usaha tersebut saya sama sekali tidak mengeluarkan modal sepeser pun, melainkan hanya bermodalkan kemauan dan kerja keras,” jelasnya.
Dengan menyisihkan sebagian keuntungan jualan susu kedelai tersebut selama satu tahun, akhirnya tabungannya terus bertambah dan kembali ia putar untuk modal usaha lainnya.
Tahun 2009, dengan modal Rp 20 juta, Rendra memutuskan untuk merintis usaha kafe internet dengan seorang teman. Namun tidak bertahan lama, karena selang berjalan empat bulan, ia merugi dan memutuskan untuk menutup usaha tersebut.
“Dari usaha kafe tersebut, saya jelas merugi, karena modal belum kembali, namun usaha kafe sudah harus ditutup,” kenangnya
Mengalami kerugian usaha yang cukup besar, Rendra tidak menyurutkan niat untuk kembali menggeluti dunia wirausaha. Karena setelah kembali mengumpulkan uang dari hasil menjual susu kedelai selama dua tahun, akhirnya pada awal tahun 2012 ini ia memutuskan untuk kembali menggeluti dunia clothing.
“Awalnya saya hanya iseng-iseng membuat beberapa sampel desain pakaian distro dan saya upload di Facebook. Alhasil, dari beberapa desain yang saya buat, banyak dipesan oleh teman,” terangnya
Meski bisa mendesain pakaian, namun harus Rendra akui tidak bisa menyablon. Ia berusaha untuk belajar menyablon melalui internet. Dan saat ini ia sudah bisa menyablon sendiri pakaian dan menjualnya kepada konsumen.
“Mulai dari itu, saya semakin menguatkan tekad untuk menjalankan usaha itu. Pada awal Maret lalu saya mulai mengumpulkan beberapa desain pakaian dan membeli alat sablon DTG dan manual kemudian mencetaknya,” tuturnya.
Alhamdulillah, beberapa hasil pakaian yang dicetak laku terjual, bahkan cukup banyak teman yang memesan pakaian baik skala besar maupun kecil.
Namun, yang namanya wirausaha, pasti ada risiko yang harus dihadapi. Buktinya belum memulai usaha, saat memesan mesin rotary sablon yang dibeli dari salah satu situs penjual mesin tersebut, dia justru menjadi korban penipuan. Karena 50 persen uang pesanan yang dikirimkan via rekening bank lenyap begitu saja dan sampai saat ini mesin pesanannya tersebut tidak jelas ke mana rimbanya.
“Kecewa jelas ada, namun rasa putus asa saya buang jauh-jauh dari pikiran. Dari kejadian tersebut justru membuat saya semakin termotivasi untuk terus menggeluti usaha ini,” ucapnya.
Alhasil, pada bulan pertama menggeluti usaha ini, ia sudah bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 5 juta. Namun sesuai dengan niatnya, 10 persen dari total pendapatan per bulan akan disumbangkan kepada masyarakat yang berhak menerimanya.
“Karena saya menginginkan setiap rupiah yang saya dapat dari usaha ini harus bermanfaat bagi orang lain. Dan ke depan, dengan semakin meningkatnya omzet usaha, saya akan berusaha untuk meningkatkan jumlah dana yang akan disumbangkan,” janjinya.
Sampai bulan keempat ini, berkat usaha berbasis amal tersebut, omzet distronya terus bertambah secara bertahap. Dan ia yakin, ke depan omzetnya akan terus dan terus bertambah.
Sampai saat ini ada sekitar 91 desain pakaian yang sudah dibuat dan siap untuk dipasarkan. Namun karena masih belum memiliki modal cukup untuk menyewa kios, saat ini sistem penjualan dilakukan dengan memanfaatkan media Facebook, blog, dan via BBM.
Meski demikian, pesanan terus saja berdatangan dan itu yang membuatnya semakin yakin usaha ini memang sangat menjanjikan untuk diseriusi.
Rencananya bulan Oktober nanti ia akan membuka tiga outlet penjualan, di mana dari tiga outlet tersebut dua sudah dipastikan positif. Outlet pertama nantinya akan berlokasi di Siantan dan outlet kedua di Jalan Parit Haji Husein Pontianak. Sedangkan outlet ketiga saat ini masih dalam pencarian lokasi yang tepat.
Rendra menargetkan dalam dua tahun ke depan Silok Distro sudah bisa membuka cabang di beberapa kabupaten/kota di Kalbar.(http://www.equator-news.com/kom-bisnis/20120902/silok-distro-bisnis-tanpa-modal-berbasis-amal)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar